Kyai Faisol Maksum: Kemarau Panjang Jadikan Muhasabah dan Introspeksi Diri

Ketapang – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Ketapang mengeluarkan imbauan kepada umat Islam di Kabupaten Ketapang dalam menyikapi musim kemarau yang berkepanjangan serta potensi kebakaran lahan yang terjadi di sejumlah wilayah.

Imbauan tersebut tertuang dalam Himbauan MUI Kabupaten Ketapang Nomor 001/MUI-KTG/VIII/2026 tentang Menyikapi Musim Kemarau Berkepanjangan dan Kebakaran Lahan. Dokumen tersebut kemudian disampaikan kepada pengurus masjid dan musala, para khatib Jumat, serta kaum muslimin dan muslimat di Kabupaten Ketapang untuk dapat dilaksanakan dan diinformasikan kepada jamaah.

Ketua MUI Kabupaten Ketapang, KH. Moh. Faisol Maksum, menyampaikan bahwa kondisi kemarau berkepanjangan hendaknya tidak hanya disikapi sebagai persoalan alam dan lingkungan, tetapi juga menjadi momentum bagi umat Islam untuk melakukan muhasabah atau introspeksi diri, memperbanyak istighfar, zikir, doa, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Menurutnya, dalam menghadapi kondisi sulit seperti kekeringan dan musibah kebakaran lahan, umat Islam perlu memperkuat ikhtiar lahiriah sekaligus ikhtiar batiniah. Masyarakat diingatkan untuk memperbanyak memohon ampun kepada Allah SWT dan meninggalkan berbagai perbuatan yang dapat mendatangkan kemudaratan bagi diri sendiri maupun lingkungan.

“Kemarau yang berkepanjangan hendaknya menjadi momentum bagi kita semua untuk melakukan introspeksi diri, memperbanyak istighfar, zikir dan doa, serta meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Di samping itu, kita juga harus menjaga lingkungan dan menghindari perbuatan yang dapat menyebabkan kebakaran lahan,” ujar KH. Moh. Faisol Maksum.

Ia menegaskan, persoalan kebakaran lahan tidak boleh dianggap sebagai persoalan kecil. Selain berdampak terhadap lingkungan, asap akibat kebakaran juga dapat mengganggu kesehatan, aktivitas masyarakat, serta menimbulkan kerugian sosial dan ekonomi.

Karena itu, MUI Kabupaten Ketapang mengajak masyarakat untuk meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan, tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan, serta bersama-sama mencegah terjadinya kebakaran.

KH. Moh. Faisol Maksum juga mengajak para pengurus masjid, musala dan para khatib untuk menjadikan momentum kemarau ini sebagai sarana memberikan edukasi keagamaan kepada masyarakat.

Pesan-pesan tentang istighfar, taubat, zikir, doa dan kepedulian terhadap lingkungan diharapkan dapat disampaikan dalam berbagai kesempatan, khususnya melalui khutbah Jumat, pengajian dan kegiatan keagamaan lainnya.

MUI Kabupaten Ketapang berharap seluruh elemen masyarakat dapat mengambil bagian dalam menghadapi musim kemarau. Pemerintah, tokoh agama, pengurus masjid, tokoh masyarakat, pemuda dan seluruh lapisan masyarakat diharapkan bersama-sama menjaga lingkungan serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran lahan.

“Kita berdoa kepada Allah SWT agar segera menurunkan hujan yang membawa manfaat dan keberkahan. Namun doa harus dibarengi dengan ikhtiar. Mari kita menjaga lingkungan, tidak melakukan pembakaran yang berpotensi menimbulkan kebakaran, serta saling mengingatkan dalam kebaikan,” tegasnya.

Sementara itu, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Ketapang melalui surat pengantar tertanggal 13 Agustus 2026 juga telah meneruskan himbauan MUI tersebut kepada pengurus masjid/musala, khatib Jumat serta kaum muslimin dan muslimat di Kabupaten Ketapang agar dapat dilaksanakan dan diinformasikan kepada jamaah.

Dengan adanya imbauan ini, MUI Kabupaten Ketapang berharap musim kemarau tidak hanya menjadi ujian bagi masyarakat, tetapi juga menjadi momentum untuk meningkatkan ketakwaan, memperkuat kepedulian sosial, menjaga kelestarian lingkungan, dan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. (Syafi’ie)

Bagikan:
Scroll to Top