Refleksi Akhir Ramadhan 1447 H: Pelajaran Spiritual dari Gejolak Dunia

Oleh: Dr. Rahmat Ferianto, Lc, M.Si., Dosen STAI Al-Haudl. Pimpinan & Pengasuh PMIT Al-Mohsiniin Ketapang Kalimantan Barat.

Menjelang berakhirnya Ramadhan 1447 H (2026 M), umat Islam di seluruh dunia dihadapkan pada realitas global yang penuh ketegangan. Konflik geopolitik di Timur Tengah kembali memanas, khususnya antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat yang saling melancarkan serangan militer dan balasan di berbagai wilayah kawasan tersebut. Serangan udara besar yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026 memicu perang terbuka dan serangkaian serangan balasan yang memperluas konflik di kawasan Teluk dan sekitarnya.

Peristiwa ini bukan sekadar konflik politik atau militer, tetapi juga menjadi pengingat bagi umat manusia tentang rapuhnya perdamaian dunia. Ramadhan yang hampir berlalu seharusnya menjadi momentum refleksi spiritual: apakah manusia semakin dekat kepada nilai keadilan, atau justru semakin tenggelam dalam kezaliman dan permusuhan?

Al-Qur’an mengingatkan bahwa kezaliman adalah sumber kehancuran peradaban. Allah berfirman:

وَلَا تَحْسَبَنَّ اللّٰهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظّٰلِمُوْنَ ەۗ ( ابرٰهيم/14: 42)

“Dan janganlah kamu mengira bahwa Allah lengah terhadap apa yang diperbuat oleh orang-orang zalim.” (Ibrahim: 42)

Ayat ini menegaskan bahwa setiap bentuk penindasan pada akhirnya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Sejarah membuktikan bahwa kekuatan politik dan militer tidak pernah bersifat abadi. Banyak imperium besar yang pada akhirnya runtuh ketika mereka tenggelam dalam kesombongan dan ketidakadilan.

Islam menempatkan keadilan sebagai prinsip fundamental kehidupan sosial. Al-Qur’an memerintahkan kaum beriman untuk berdiri tegak menegakkan keadilan bahkan terhadap diri sendiri dan keluarga. Ini menunjukkan bahwa standar moral Islam tidak tunduk pada kepentingan politik, melainkan pada nilai kebenaran dan kemanusiaan.

Rasulullah Saw juga mengingatkan tentang bahaya kezaliman melalui sabda beliau:

Dari Abu Ma‘bad, dari Ibnu ‘Abbas ra bahwasanya Rasulullah Saw  mengutus Mu‘adz ke Yaman, lalu beliau bersabda kepadanya: ‘Takutlah terhadap doa orang yang dizalimi, karena sesungguhnya tidak ada penghalang antara doa itu dengan Allah”.(HR. Tirmidzi).

Hadits ini memberikan pesan yang sangat kuat bahwasanya setiap penderitaan rakyat sipil, setiap darah yang tertumpah secara tidak adil, dan setiap jeritan korban perang tidak pernah luput dari pengawasan Allah. Doa orang yang teraniaya menjadi kekuatan spiritual yang melampaui kekuatan senjata.

Oleh karena itu, refleksi akhir Ramadhan seharusnya tidak berhenti pada ibadah personal semata. Ramadhan mendidik umat Islam untuk menumbuhkan empati global, kepedulian terhadap penderitaan manusia, serta komitmen terhadap perdamaian dan keadilan. Puasa melatih kita menahan hawa nafsu, termasuk nafsu kekuasaan, keserakahan, dan kebencian yang sering menjadi pemicu konflik.

Ramadhan juga mengajarkan solidaritas kemanusiaan. Zakat, infak, dan sedekah yang diperintahkan dalam Islam bukan hanya instrumen spiritual, tetapi juga fondasi peradaban yang berkeadilan. Ketika umat manusia menghidupkan nilai-nilai tersebut, maka peluang terciptanya dunia yang lebih damai akan semakin besar.

Di penghujung Ramadhan ini, umat Islam hendaknya memperbanyak doa agar Allah menurunkan kedamaian bagi dunia, melindungi masyarakat sipil dari kehancuran perang, dan menumbuhkan kesadaran global untuk kembali kepada nilai keadilan dan kemanusiaan. Sebagaimana firman Allah:

اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ ٨ ( الممتحنة/60: 8)

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (Al-Mumtahanah: 8)

Semoga Ramadhan yang akan segera meninggalkan kita menjadi momentum kebangkitan spiritual umat, sehingga nilai rahmat, keadilan, dan kemanusiaan benar-benar terwujud dalam kehidupan dunia.

Bagikan:
Scroll to Top