Ketua Umum MUI Sambangi Markas FKUB

Oleh: M. Nashir Syam

Hari itu (Senin, 1/6/2026) tak begitu cerah tapi tak juga terlalu sejuk. Cuaca sangat bersahabat. Kami melaksanakan tugas mengikuti upacara peringatan hari lahir Pancasila di halaman kantor Bupati Ketapang. Di tenda khusus undangan, duduk para pejabat eselon, perwakilan organisasi etnis dan ormas keagamaan termasuk di dalamnya ada Ketua Umum MUI Ketapang, Drs.KH. Moh. Faisol Maksum.

Yang sangat istimewa adalah FKUB. Mengapa ? Karena berbeda dengan komunitas organisasi/lembaga lain, untuk FKUB yang diundang adalah semua anggota (kendati tetap yang hadir tidak seratus persen, karena ada agenda lain). Tapi lagi-lagi, untuk FKUB diundang semua dan selalu duduk di posisi paling depan, lengkap berseragam batik hijau khas FKUB. Ada Almuhammad Yani, SH,MH, Putu Dewa Kota, SH, Romo Drs. Lukas Lawun, Romo Pandita Muda Sudarso, ST, Pendeta Herry Wowiliang, S.Th, AKP (purn) H.Purwanto dan tentu saja si kuli tinta M. Nashir Syam.

Kegiatan upacara berlangsung dengan lancar dan penuh khidmat. Dipimpin oleh inspektur upacara Wakil Bupati Ketapang  Jamhuri Amir, SH yang membacakan naskah pidato Ketua Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Prof. Yudian Wahyudi.

Setelah upacara selesai, kami singgah di markas FKUB yang dulu tempat itu sempat disebut “rumah hantu” karena seram dan angker. Sekarang rumah hantu itu sudah berubah menjadi “rumah Tuhan” karena di situlah tempat kami, para tokoh agama berinteraksi, mensatupadukan persamaan di tengah perbedaan yang ada.

Di markas sudah ada senior kami, Pendeta Jantje Abidano, S.Th orang nomor 1 di PGKK dan ada senior Ustadz Drs.Edy Santoso, M.Pd orang nomor 1 Majelis Tafsir Al-Qur’an atau MTA Ketapang. Senior satu ini bukan hanya pakar meracik minuman kopi jahe (khas FKUB Ketapang) tapi juga pakar meracik laku lalang pikiran mitra ngobrolnya. Perbincangan pasti cair, bila beliau ada di dalamnya.

Tidak ada hujan, tidak ada angin. Suasana ketika kami nyeruput kopi jahe disertai gelak tawa khas sesepuh Hindu Ketapang Pak Dewa, tetiba muncul “tamu istimewa” yang tadi sewaktu upacara bersama kami, tamu istimewa itu adalah kiai Faisol. Orang nomor wahid di MUI Ketapang. Kerawuhan tiba-tiba itu membuat seolah sebagai penyempurna bincang-bincang kami.

Kiai Faisol bagi FKUB Ketapang bukanlah orang asing, karena sejatinya beliau pernah menjadi bagian di FKUB. Suatu saat beliau pernah bercerita pengalamannya menjadi anggota FKUB dalam sosialisasi kerukunan di hulu/pedalaman. Perjuangan yang mengasyikkan tentunya.

Perbincangan sangat cair, tanpa ada protokoler atau seremonial. Semua mengalir begitu saja. Dari masalah kurban Presiden, pengalaman mendampingi jemaah haji dan masalah remeh temeh tapi tetap berbobot dan bernas.

Melihat kiai Faisol, sama saat saya berdialog dengan Romo Uskup Mgr. Riana Prapdi. Sejuk didengar, serasa adem di hati. Dan pastinya sesekali diselingi tertawa renyah. Ini mungkin yang membedakan kyai Faisol-Romo Uskup dengan tokoh agama yang lain, “agak kaku” dan formalistik.

Saya melihat dari sisi yang lain, bahwa kerawuhan beliau itu bukan sekedar kehadiran fisiknya di markas FKUB tapi sejatinya mengisyaratkan ikatan emosional seorang tokoh muslim yang begitu melekat diterima oleh komunitas non muslim. Kyai Faisol untuk sementara ini masih menjadi figur ideal untuk mengimami MUI Ketapang, karena dia bukan hanya mampu merangkul muslim lintas “mazhab” tapi juga mampu menjadi jembatan kerukunan lintas-iman. Satu lagi, figur yang mampu merawat harmoni dengan pemerintah.

Tidak terasa bincang-bincang itu sudah melewati satu jam lebih. Tentu kami merasa terberkati, semoga ada tokoh agama lain yang ada waktu luang untuk berbagi ilmu dan kebaikan di markas kami. Pastinya akan kami siapkan pisang dan jagung rebus plus kopi jahe hangat.

Bagikan:
Scroll to Top